dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.

Form kontak

Next Page

rss feed

Piala Dunia dan Penambal Ban
Saturday, July 01, 2006

Buruh media itu bernama Agoeng Wijaya. Nama yang aneeeeh, memang. Agoeng, mengikuti kaidah ejaan lama. Wijaya, seperti aturan ejaan baru. Tentunya bukan saya saja yang berpikir, apa maksud penamaan campursari seperti itu.

Jumat malam waktu Jakarta, ketika Jerman berjibaku dengan Argentina di Olympiastadion, Berlin, Agoeng tengah mengendarai motor bebeknya di jalan sekitar Pejompongan, mengarah ke Manggarai. Tugas kantor membuatnya terpaksa melewatkan sekian menit laga dua tim yang terlalu cepat bertemu itu.

Memang, tidak ada pepatah yang berbunyi "siapa menabur paku, dia menabur untung". Yang pasti, ban motor Agoeng melindas paku. Pastinya, kempeslah si ban. Dan seperti jalanan berpaku lain di Jakarta, tak jauh dari tempat kejadian perkara pasti ada kios penambal ban.

Agoeng tak mau berpikir buruk menuduh siapa menabur paku. Dia hanya ingin segera menambal ban motor. Maka ia pun menghampiri kios terdekat dan mencari spesialis penambal ban yang tengah dinas. Di tengah celinguk Agoeng, seseorang menunjuk seorang pria yang tengah duduk di depan teve. Mafhumlah Agoeng, bahwa yang ditunjuk itu adalah sang penambal ban.

"Pak, mau nambal ban," kata Agoeng pada Pak penambal. Tapi bapak itu berkelit, "Wah yang nambal bannya lagi pergi." Agoeng bingung. Dia menoleh ke orang pertama yang menunjuk-nujuk si penambal tadi. Kembali, orang itu menunjuk-nunjukkan jarinya ke bapak yang masih juga berkelit.

Situasi sialan seperti itu membuat Agoeng mengerti, bahwa bannya yang kempes tak mampu membuat penambal bergeming dari kursinya. Apalagi kalau Pak penambal mempertaruhkan uang yang cukup besar. Hohoho.

Alhasil, sambil merutuk-rutuk, Agoeng pun mencari tukang tambal ban lain yang tidak memasang televisi di kiosnya. Atau yang rela meninggalkan sebentar pertarungan babak pertama tim Tango dan tim Panser, demi mengobati luka-luka di ban motor bebek kesayangan Agoeng.


Oleh dodi, pada 01:01 am
(12)



Di Mana Budi dan di Mana Ibunya
Monday, April 17, 2006

Keretaapi bergerak dengan kecepatan maksimalnya di atas rel berstandar Indonesia. Di kiri dan kanan, hijau membentang. Sawah, tempat mencuatnya padi yang memberi makan bangsa ini. Pembangunan memberi aksen sesekali, dalam wujud tiang listrik, jalan beraspal, atau bangunan rumah dengan antena menjulang.

Dari dalam gerbong yang sejuk berkat pendingin, tampak mega serupa kapas tersebar di angkasa. Rupanya mereka tak kuasa membendung banjir warna biru yang dipantulkan atmosfer ke bumi. Gerbong itu penuh, tentunya. Khas keretaapi setelah libur panjang akhir minggu. Ada sedikit riuh dari beberapa anak kecil yang bercanda, merengek, atau bertanya ini-itu pada orangtuanya. Untungnya tak bising.

Di gerbong itulah, pada dia (yang dalam hal ini tak signifikan siapa orangnya), saya menceritakan sebuah kisah. Sebuah kisah dari masa lalu. Masa lalu, tentu saja, tak terletak di mana-mana kecuali dalam memori. Atau dalam catatan-catatan yang masing-masingnya mencoba meyakinkan bahwa yang tercatat disitu benar belaka.

Sekitar dua dasawarsa lalu, takdir rupanya membuat saya menyukai mainan yang diberikan orangtua. Mainan itu terdiri dari 26 bentuk huruf, dan 10 bentuk angka. Mungkin ayah maupun ibu bergantian menunjukkan pada saya, yang mana huruf A dan bagaimana melafalkan C. Saya tak yakin saya benar-benar memiliki cukup kesadaran untuk menyenangi huruf-huruf. Entahlah, mungkin semacam insting saja yang membimbing.

Hasilnya, sebelum masuk taman kanak-kanak, saya sudah bisa membaca. Walau seringkali yang dibaca tak memberi makna apa-apa. Di taman kanak-kanak tahun 1985, ketika saya berumur empat tahun, kemampuan membaca tidaklah perlu. Sehari-hari kami hanya bermain. Menggambar. Jalan-jalan. Dan kegiatan menyenangkan lainnya.

Dua tahun berlalu. Beberapa hal terjadi, yang menyebabkan keluarga kami berpindah tempat tinggal. Di kelas 1 sekolah dasar, tahun 1987, kurikulum menggariskan pelajaran membaca bagi siswa. Jadi di kelas, buku berwarna merah tua dibagikan pada kami. Bentuknya persegi panjang. Di dalamnya ada i-n-i i-b-u b-u-d-i dan deretan kalimat singkat lain untuk pelajaran membaca.

Tapi saya sudah bisa membaca. Jadi sementara seluruh kelas bersama-sama mengeja huruf, saya memilih membolak-balik halaman buku. Melihat-lihat gambar yang ada. Melihat-lihat halaman di belakang yang makin dipenuhi huruf. Juga menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan juga ke belakang saya. Melihat Pak Guru mengetuk-ngetuk penggaris kayu ke papan tulis.

Tapi rupanya, di tahun 1987, keseragaman adalah keniscayaan. Gerak-gerik saya terpantau oleh Pak Guru. Dia memarahi saya karena tak ikut mengeja. Saya tak melawan. Tak ada gunanya saya berteriak saya sudah bisa membaca. Terlebih lagi, saya rasa, saya tak begitu paham mengapa Pak Guru menjadi gusar saat itu.

Dan di depan kelas, membelakangi papan tulis, tepat di bawah Garuda Pancasila yang diapit foto Pak Presiden Soeharto dan Pak Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, saya berdiri. Dengan satu kaki terangkat, dan kedua tangan memegang telinga. Pak Guru mengganjar setrap.

Kelas kemudian melanjutkan belajar membaca bersama. Tanpa saya, hari itu. Karena saya harus tetap dalam posisi setrap, yang untungnya dimoderatkan oleh Pak Guru sehingga saya boleh berdiri dengan kedua kaki.

I en i ini. Be u bu, de i di. Ini Budi. I en i, ini. I be u, Ibu. Be u bu, de i di.

Ini Ibu Budi.


Oleh dodi, pada 12:55 am
(24)



Matinya Sang Gubernur
Saturday, April 01, 2006

Sang Gubernur duduk, sedikit lelah. Hadirin baru saja bertepuk tangan mendengar pidatonya. Tepuk tangan basa-basi. Apa pun isinya, mereka toh tetap akan menepukkan telapak tangan.

Dia baru memberi sambutan di sebuah acara. Pokoknya, sesuai jadwal yang disusun sekretarisnya, hari itu dia harus hadir di depan ratusan orang untuk memberi pidato, yang teksnya juga sudah disusunkan. Dia tak hanya membaca, tapi diberinya sedikit improvisasi. Bagian awal dan akhir pidato, Sang Gubernur mengabaikan teks yang dirasa terlalu formal.

Kini di meja di depannya, sebuah piring berisi kue-kue terletak. Di samping kanan piring, di atas taplak meja warna biru, ada segelas air kemasan. Sang Gubernur, haus setelah berpidato, menyambar air itu. Sedotan dia tusukkan dan dalam hitungan detik, air pun habis.

Setelah sedikit berbasa-basi dengan seorang kepala dinas dan seorang lagi, entah siapa, yang berbicara tentang pemilihan kepala daerah, Sang Gubernur pun beranjak. Bersama supirnya, dia berjalan menuju mobil dinas sambil melambaikan tangan ke hadirin. Dia berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan beberapa wartawan.

"Kita langsung ke kantor saja," Sang Gubernur memerintah supir. Tapi mobil itu tak pernah mengantar Sang Gubernur ke sana.

Di tengah jalan itu, telepon genggam Sang Gubernur berbunyi. Dia menjawab dengan menyalakan pengeras suara. "Hei babi," kata si penelepon. Gubernur terperanjat. Siapa ini, dia bertanya. "Hei babi! Kau akan mati! Kau minum racun, goblok!"

Telepon terputus. Gubernur diam. Saat yang sama, dia mulai merasa pusing. Mual. Penglihatannya kabur, berkunang-kunang. "Belok ke rumah sakit!" kata dia pada supir. Supir yang panik memacu kendaraan ke rumah sakit.

Gubernur sempat dirawat di ruang khusus. Tapi dia tak mampu bertahan. Penyebab matinya, kata pihak rumah sakit, adalah serangan jantung.

Yang tak diketahui adalah, air kemasan yang diminum Sang Gubernur telah diracun. Seseorang menyuntikkan sesuatu dari atas penutup air kemasan, sebelum air itu disajikan di kursi Sang Gubernur di acara tadi.

Di Jakarta, kepala badan intelijen terhenyak menerima laporan itu. Pelakunya adalah sayap klandestin pergerakan anti-integrasi. Maka diluncurkanlah sebuah propaganda, tentang kebusukan seorang anggota parlemen.

Untungnya mereka punya stok yang banyak untuk isu seputar anggota dewan. Penyebab kematian Gubernur berhasil dibelokkan. Presiden secara pribadi menyatakan pujian pada kepala badan intelijen, dalam sebuah pertemuan empat mata.

Kini, seorang gubernur baru telah terpilih melalui proses pemilihan kepala daerah.


Oleh dodi, pada 12:49 pm
(17)




bacaan! login img 1n3x Aban An Anakbaik Ayu Bea Blub Cipi Crey Cta De Dessy Didats Dv Dinky Enda Fahmi Femmy F-R-G G.B.T. Gina Gio Ichanx Iebud Ika Ikez Indie Jane Joey Kuda Lika Maknyak Mamatz Maria Mea Miranda-(2) Mput N[a] Nazla Nova Pyro Rara Rur Sandra Santie Shofa Sitta-(2) Siwoer Sunshower Vi3 Viga Yusie

Blogdrive



Free Domain Name - www.YOU.co.nr

Belanja clothing Bandung online? Klik: